senja itu cukup meriah,
sewaktu tubuhmu merenih peluh haruman kelopak-kelopak bunga
dan padang pasir yang tandus itu seperti menghela nafas terdesak mendalam;
baginya untuk menutup gersang yang sudah lama itu sudah cukup dengan satu hakisan air dari berahi kita
yang terlekat di kapal noda
yang terlukis di kamar surga
yang kita ukir atas cadar
dari tompok-tompok rindu
kita membenih segala cinta yang kuat
dan tidak pernah selisih bahkah fasih dengan refleksi bentuk badan
seperti aku dan kau tahu;
material kamasutra itu sudah habis kita hadam
kita praktik walau dalam apa keadaan sekalipun
walau bangunan runtuh, hilang budaya,
sekalipun waktu seinci kehilangan nyawa sebab;
tanpa berdosa kita tidak akan pernah tahu nikmat itu adalah nikmat
tapi kau hanyalah November yang candu
setelah kau duduk bersebelahan denganku;
tidakkah kau rindu dengan awan-awan yang pernah kau ada dahulu?
tidakkah hujan itu adalah paling selimut ketika kau menari-nari di atas tikar realiti
kau tahu, aku hanyalah matahari yang berahi
dan kita berbicara tidak lama,
waktu sekejap itu mengenalkan kau kepada pada sudut yang kau mahu,
yang kau suka dalam diri aku
dan kau sudah kata akan menghabiskan masa kau selamanya
hanya untuk kita berdua
dan akan melupakan kalender
bunga krisan,
kicauan burung kebasahan
pelukan yang paling suam
dan kau bersetuju;
ruang yang sempit ini terselit selesa
sempurna untuk menjadi peniti hari-hari kita
tapi kau tahu
aku hanyalah matahari yang berahi
dan kau hanyalah November yang candu


No comments
ORKED MAG aims to stimulate dialogue and debate around social and cultural issues, arts, life and beyond, so we’d love to hear from you. Let us know what you think in the comments or connect with us on Instagram, Twitter and Facebook. Cheerio!